Gara-gara Tidak Memakai Masker, Mak Iyom Penjual Gula Aren Dirampas Dagangannya

  • Whatsapp

Mak Iyom (55) warga Desa manggis Kecamatan Cantanyan Kabupaten Sukabumi mendadak viral di media sosial. Setelah postingan nitizen akun @vera.frima di Instagram Story miliknya dan menandai akun @sukabumitoday.

Dalam postingannya, mak iyom terjaring razia Satpol PP tidak menggunakan Masker saat berjualan Gula Aren di Wilayah gang Kampung Cibiru Desa/Kecamatan Cantanyan beberapa waktu lalu.

Berdasarkan penelurusan dan pengakuan Mak Iyom kepada wartawan, kejadian tersebut terjadi pada Rabu seminggu sebelum puasa lalu. Hanya saja baru viral di medsos setelah ada seorang warga yang mengunggah kejadian tersebut baru baru ini, hingga jejak digitalnya tersebar di dunia maya.

Konten tersebut berdasarkan tangkapan layar terdapat foto Mak Iyom penjual gula merah keliling dengan disertai tulisan: “Terkutuklah BAPAK SATPOL PP yg merazia nene ini. Beliau sudah renta pak, ko bisa2nya dg badan kekar, bapak tega “memalak” nenek ini dan mengambil dagangannya (fyi, emak ini jualan gula merah) karena ga pake masker dan ga bawa KTP. Padahal kan bapa bisa beri arahan atau bapa kasih masker atau alangkah lebih mulia bapak beli jualannya.” tulis dalam akun tersebut.

Dan parahnya lagi bukan 1 atau 2 ikat aja yg diambil tapi 5 ikat, yg kalo terjual harganya 50 rb. Daaaan mirisnya nene ini sempet meminta belaskasihan dr BAPAK SATPOL PP krn ini (jualan) punya orang lain, Dan BAPAK SATPOL PP cuman menjawab wios atuh mak nyuhunkeun kaikhlasana ti emak we (yg artinya ga apa2 lah nek minta keikhlasan dari nenek aja),” lanjutnya.

Baca Juga:  Percepat Capaian Target, Ade Yasin Canangkan Bulan Vaksinasi Covid-19

Dengan pasrah emak ini akhirnya pulang dengan membawa sisa jualannya. Beliau cerita dg suara gemeteran doong dan mata berkaca-kaca, mungkin masih trauma. Sehat-sehat ya nek, insyaallah pasti rejeki nene akan dilipatgandakan,” ujarnya lagi mendoakan.

Enya, leres (iya, benar) kejadiannya di Jalan Cagak Kampung Cibiru hanya kejadiannya udah lama, hari Rabu seminggu sebelum bulan puasa,” ujar Mak Iyom kepada wartawan, Jumat (6/8/2021).

Sebagai penjual Gula, yang biasa sehari hari berjalan puluhan kilo meter tentunya dirinya sudah terbiasa tidak membawa KTP dan tidak memakai masker akibat kurangnya informasi. Dirinya juga membenarkan bahwa dagangnya diambil oleh petugas, namun saya dirinya juga tidak mengetahui dari mata petugas tersebut.

Anggoanna mah coreleng (pakaiannya belang) hijau kuning, gula yang diambil sebanyak lima bungkus, kalo dinilai seratus ribu,” ujar Mak Iyom.

Dirinya langsung pulang tidak berjualan setelah insiden itu. Dia dicegat oleh yang mengaku petugas sebanyak 15 orang, semuanya memakai motor. “Emak mah sudah mengikhlaskan, ga mau ketemu orang itu lagi, takut,” ujar Mak

Baca Juga:  Sebagian Kecamatan di Kabupaten Bogor Sebelah Barat Rawan Bencana

Iyom ketika ditanya apakah mau dilaporkan kejadiannya tersebut ke pihak berwajib. Terkait viralnya kisah penyitaan gula aren, Mak Iyom mengakui pernah bercerita tentang kejadian itu ke beberapa langganannya, akan tetapi dirinya tidak menyangka akan diunggah di media sosal atas curhatannya tersebut.

Ketika ditanya apakah kenal dengan akun pengunggah postingannya, nenek beranak dua itu pun tidak tahu siapa yang postingnya, dan ketika ditunjukkan foto akun Instagramnya pun mengaku tidak kenal dengan pemilik akun @vera.frima.

Untuk diketahui, penduduk Desa manggis sudah sejak dulu sebagian warganya berprofesi sebagai penjual gula ke liling kedesa-desa. Mak Iyom adalah salah satu dari warga lainnya yang menjajakan Gula, perjuangan mereka tidak lah mudah karena harus melewati jalan terjal masuk ke kampung-kampung.

Berdasarkan penelurusan memang lokasi asal Mak Iyom hingga ke lokasi perampasan sangatlah jauh, jika ditempuh kendaraanpun memakan waktu antara setengah hingga satu jam mengingat jalannya masih rusak. Apalagi, ketika penjualan gula ini dilakukan dengan berjalan jalan kaki, tentunya bisa memakan waktu seharian penuh dengan untung yang tidak sebarapa. Sangatlah tega ketika ada tindakan petugas merampas dagangannya dengan alasan tidak memakai masker, seharusnya diperingati dulu dan diberikan masker, jika kemudian tidak memakai masker lagi baru di sanksi.

(radar sukabumi)

Pos terkait